RSS

Cerdas Bukan Sekadar Calistung!

28 Jan

Sebagai orangtua, cermati kembali faktor apa yang menjadi ukuran dalam menilai kecerdasan anak usia dini. Apakah standar sekolah formal yang mengharuskan anak usia 6 – 7 tahun harus menguasai calistung (baca tulis hitung) menjadi ukurannya?

Kecerdasan otak dan emosi setiap anak tak pernah sama. Pada akhirnya kemampuan anak untuk menerima proses pembelajaran baca tulis dan menghitung juga tak bisa dipukul rata. Menjadi berbahaya bagi pengembangan karakter anak jika terjadi pemaksaan terhadap anak dalam penguasaan calistung.

“Indikator kecerdasan bagi orangtua kebanyakan adalah calistung, bukan karakter si anak. Dengan melatih kepekaan anak terlebih dahulu, berproses dengan perkembangan alami anak, nantinya akan mengantarkan anak memahami calistung tanpa dipaksakan, dan anak menjadikannya sebagai kebutuhan dasar dengan munculnya rasa ingin tahu mereka. Jika sudah demikian anak akan meminta tanpa perlu diperintah untuk belajar membaca, misalnya,” papar Ermalen Dewita, pendiri Yayasan Cerdas Merdeka, Pendidikan Perempuan & Anak kepada Kompas Female.

Menurut perintis pendidikan anak usia dini berbasis karakter ini, membangun jiwa anak dan membentuk karakter mandiri secara permanen lebih efektif. Contoh sederhananya, orangtua perlu merespons rasa ingin tahu anak. Pengasuhan di rumah harus mendidik anak dengan menjawab pertanyaan mereka. Orangtua juga merespons aktivitas anak tanpa membuat anak diintervensi, mendiskusikan kegiatan anak tanpa mencampuri dunia mereka lebih jauh. Contoh lain, selisih paham antara kakak-adik sebaiknya dibicarakan, dan peran orangtua adalah menjadi role model dalam memberikan problem solving. Artinya, anak dilibatkan dalam mencari solusi setiap masalah.

“Dengan begitu anak akan lebih mandiri dan bermotivasi tinggi. Jika karakter ini terbangun dari dalam jiwanya, maka kebiasaan belajar terbangun secara permanen. Dalam seminggu pun anak bisa dilatih baca tulis, jika sebelumnya dibangun karakter kemandirian dan rasa penasaran anak diakomodasi oleh pendidiknya, guru, dan keluarga,” jelasnya.

Mengakomodasi kebutuhan anak akan rasa ingin tahu, membuat karakter anak bertumbuh dan kemampuan membaca menjadi kebutuhan.

sumber: KOMPAS.com/Kompas Female/Wardah Fajri

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on January 28, 2010 in article

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: