RSS

Dari Otak ke Pembuluh Darah

24 Jan

BELLA baru berusia lima tahun. Tapi jadwal kegiatan harian bocah perempuan itu sudah padat. Dari Senin hingga Sabtu, Bella keluar-masuk tempat les mengikuti keinginan orang tuanya. Hari-harinya diisi materi kursus, mulai bahasa Inggris hingga tata boga. Ia nyaris tak punya waktu bermain.

Saat masuk sekolah dasar, pada usia enam tahun, Bella mulai
berulah. Anak yang semula penurut dan manis itu menjadi tak ingin melakukan apa-apa di sekolah. Orang tua dan gurunya pun bingung.“Anaknya pintar, IQ tinggi, tapi sudah bosan belajar karena
bermacam les itu,” kata Purboyo Solek, dokter anak di Bandung yang menangani Bella.

Sikap Bella ini, menurut dokter yang juga konsultan neurologi anak di Rumah Sakit Santosa Bandung itu, merupakan bentuk perlawanannya terhadap orang tua dan guru. Ia menolak keinginan orang tua yang memaksanya ikut berbagai les. “Depresi pada anak bentuknya menarik diri, tidak berkontak dengan lingkungan sosialnya,” ujar Purboyo.

Bentuk lainnya, anak berlaku impulsif dan agresif. Di sekolah atau di rumah, si anak biasa membuat keonaran dan mencari-cari masalah.

Bella dibawa orang tuanya ke psikiater dan ia divonis menderita
skizofrenia. “Anaknya makin kacau karena perlakuan orang tuanya jadi berbeda,” katanya.

Keluhan yang sama menumpuk di ruang psikolog anak Magister
Profesional Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran, Indun

Lestari Setyono. Seorang pasien kelas lima sekolah dasar ketakutan dan cemas karena merasa capaian dari kegiatannya selama ini tak sesuai dengan keinginan orang tua. Si anak malah terserang sakit mag akut.

Penyebab lain depresi pada anak dan remaja adalah peristiwa kritis
dalam kehidupan mereka, seperti kehilangan orang tua, ketidakharmonisan dengan orang tua, dan perceraian. Anak-anak

kebanyakan tidak dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap perubahan yang terjadi di lingkungan mereka, seperti perceraian atau adanya pasangan baru dari orang tua mereka.

Menurut psikiater Teddy Hidayat, depresi pada remaja sekolah
menengah umumnya disebabkan oleh masalah dengan orang tua dan kawan sebaya.

Orang tua yang tidak mengerti keinginan anaknya dan suka melarang, atau anak kurang diterima kawan pergaulan, bisa membuat si anak murung. Akibatnya, anak marah-marah, terlibat narkotik dan obat terlarang, atau melakukan kenakalan remaja lain.

Bukan hanya dampak terhadap perilaku, seperti menarik diri dari
pergaulan atau malah agresif dan melarikan diri ke obat-obatan
terlarang, yang juga mengkhawatirkan adalah dampak depresi pada kesehatan fisik.

Serangan ke organ-organ tubuh akibat depresi pada usia dini yang tak tertangani inilah yang di kemudian hari bisa menjelma menjadi penyakit mematikan yang muncul di usia relatif muda. Menurut hasil penelitian Profesor Herbert Scheithauer dari Free University of Berlin, misalnya, 70 persen anak yang mengalami penyakit pembuluh darah dan jantung disebabkan oleh depresi.

Penelitian lain yang memperkuat hal itu dilakukan oleh lembaga
kesehatan nirlaba RAND Corporation di Santa Monica, California, Amerika Serikat. Disebutkan, anak yang menderita kesehatan mental buruk mengalami kerusakan jangka panjang secara signifikan pada organ-organ tubuh yang berhubungan dengan pembuluh darah. “Panjang hidup mereka berkurang 20 tahun,” kata peneliti utama James Smith, seperti dikutip jurnal kesehatan Social Science & Medicine.

Penjelasannya, tekanan kejiwaan tersebut mempengaruhi sel-sel
dalam pembuluh darah. Hal itu, menurut peneliti dari Universitas
Acadia, Nova Scotia, Kanada, Lachlan A. McWilliams, memicu
gangguan yang berhubungan dengan jantung, misalnya stroke,
serangan jantung, dan tekanan darah tinggi. “Rasa tidak nyaman
pada diri juga erat kaitannya dengan gangguan kardiovaskuler,
seperti penyakit jantung,” kata Williams, pemimpin penelitian ini,
seperti dilansir Healthday.com.

Peneliti lain, David J. Abbott, menyatakan, disadari atau tidak,
emosi erat hubungannya dengan kesehatan seseorang. Menurut dia, tubuh merespons cara berpikir, kemudian merasakan dan melakukan tindakan. “Inilah yang dinamai koneksi pikiran dan tubuh.

Apabila Anda sedang dilanda stres, kegelisahan, atau kesedihan, tubuh akan mengatakan kepada Anda, ada sesuatu yang salah,” ujar Abbott.

Respons itu ditunjukkan, misalnya, dengan tingginya tekanan darah atau sakit perut. Sakit mag akut yang muncul sering juga dipicu oleh depresi.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, Eko Antono, juga membenarkan bahwa salah satu pencetus berbagai penyakit kardiovaskuler adalah depresi
berkelanjutan.

Namun, menurut dia, agak sulit memastikan setiap anak yang terkena gangguan organ, stroke, atau serangan jantung itu gara-gara mengalami depresi. “Kalau depresi sebagai pencetus, bisa jadi. Atau sebaliknya, orang yang mengalami gangguan kardiovaskuler menjadi depresi atau stres,” katanya.

Menurut dokter Purboyo, sakit fisik pada anak akibat depresi bisa berlangsung dalam jangka panjang. Akibat yang juga mengerikan, ujar psikiater Teddy Hidayat, justru keinginan bunuh diri, terutama pada anak remaja seusia pelajar sekolah menengah pertama dan atas. “Sebanyak 40 persen remaja pasien depresi punya ide untuk bunuh diri,” ujarnya Senin pekan lalu.

Pada kasus lainnya, menurut bekas Kepala Bagian Psikiatri Rumah Sakit Hasan Sadikin itu, ada anak yang bisa tiba-tiba bunuh diri.

“Dia mengalami stres setelah dimarahi orang tua atau ditegur
guru,” katanya. Namun, bila bunuh diri, masalahnya seperti
“selesai”, sedangkan jika depresi menjalar ke gangguan pembuluh
darah, dampaknya akan panjang dan kronis. Penanganan depresi bisa dengan obat antidepresan atau obat-obatan lain untuk menyembuhkan kelainan pada otak si pasien.

Namun, karena obat antidepresan belum boleh diberikan kepada anak berusia di bawah delapan tahun, perawatan bagi anak yang menderita depresi di antaranya kombinasi psikoterapi individu dan konseling

keluarga. Supaya optimal, terapi haruslah melibatkan orang tua, saudara, dan orang yang penting dalam kehidupan si anak, seperti guru atau kakek-nenek. Perawatan itu meliputi terapi bermain dan evaluasi berkelanjutan.

Dokter akan memberi jalan dengan lebih dahulu memastikan gangguan fisik yang diderita pasien bukan karena gangguan kesehatan lain.

Jika gangguan yang dialami tersebut benar lantaran gangguan emosional atau depresi, dokter pun akan mengobati gejala fisik lebih dahulu, sambil berupaya juga mengatasi kesehatan emosionalnya.

Seperti yang dilakukan dokter Purboyo terhadap Bella. Kini, sambil belajar di Sekolah Alam Dago, Bandung, bocah itu menjalani terapi perilaku. Menurut Purboyo, hampir setiap bulan ada 2-3 anak yang mengalami depresi karena tuntutan belajar yang keras dari orang tua. Bila hal ini tidak mendapat perhatian serius orang tua, hitung saja berapa besar ancaman penyakit kardiovaskuler di usia muda yang bermunculan di masa mendatang.

*Ahmad Taufik, Anwar Siswadi (Bandung)*

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2011/01/24/KSH/mbm.20110124.KSH135690.id.html

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on January 24, 2011 in article, kesehatan, Parenting

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: