RSS

Waspada, Obat Pereda Nyeri (asetaminofen dan parasetamol)Memicu Kanker

14 May

Obat Pereda Nyeri Beresiko

NEW YORK, (PRLM).- Temuan terbaru soal hubungan antara penggunaan parasetamol dengan risiko kanker semakin menegaskan adanya kaitan antara kanker dengan obat-obatan pereda nyeri.

Selama ini, selain acetaminophen/parasetamol, sejumlah zat lainnya
seperti ibuprofen juga dikenal sebagai obat-obatan pereda nyeri.

Penelitian sebelumnya menunjukkan aspirin, zat pereda nyeri lainnya dapat menyebabkan radang perut. Belum ada laporan yang menunjukkan penggunaan aspirin akan menyebabkan
kanker, namun penelitian masih terus dilakukan.

Akan tetapi, baru kali ini ada penelitian yang menunjukkan tautan langsung antara parasetamol dengan risiko kanker darah.

Peneliti menyebutkan, hubungan antara parasetamol dengan risiko kanker mungkin berbeda dibandingkan dengan obat-obatan penahan nyeri lainnya, seperti aspirin dan ibuprofen. (A-133/A-26).***

http://www.pikiran-rakyat.com/node/144679Waspada, Obat Pereda Nyeri Memicu Kanker

Lusia Kus Anna | Asep Candra | Selasa, 10 Mei 2011 | 16:24 WIB

*Kompas.com *— Berhati-hatilah menggunakan obat pereda nyeri dalam jangka panjang. Studi teranyar menunjukkan, konsumsi pereda nyeri golongan asetaminofen dan parasetamol meningkatkan risiko terkena kanker darah.

Meski risikonya termasuk rendah dan belum diketahui dengan pasti
mekanismenya, hasil riset tersebut menambah bukti kaitan antara kanker dan obat pereda nyeri (/painkiller/).

Pada studi awal diketahui bahwa penggunaan aspirin memang bisa menurunkan risiko kematian akibat kanker kolon, tetapi di lain pihak meningkatkan risiko perdarahan perut. Namun, belum jelas apakah perdarahan itu karena kanker darah atau hematologi.

“Sebelumnya hanya sedikit bukti yang menguatkan bahwa aspirin menurunkan risiko kanker hematologi (berkaitan dengan darah),” kata Emily White, peneliti di bidang kanker.

Pada kasus-kasus individual memang terdapat kaitan bahwa konsumsi obat penghilang nyeri meningkatkan risiko kanker. Namun, studi individual semacam itu tidak dianggap sebagai bukti ilmiah sebelum dilakukan studi
pada populasi yang besar dalam jangka panjang.

“Studi yang kami lakukan ini sangat prospektif,” kata White, meski ia belum bisa menyimpulkan obat analgesik menyebabkan kanker.

Dalam penelitiannya, White dan tim mengikuti lebih dari 65.000 pria dan wanita berusia lanjut di Negara Bagian Washington, Amerika Serikat. Para responden ditanya tentang kebiasaan mereka mengonsumsi obat pereda nyeri dalam 10 tahun terakhir dan dipastikan mereka tidak menderita kanker, kecuali kanker kulit.

Enam tahun sejak dimulainya studi, 577 orang atau kurang dari 1 persen menderita kanker yang melibatkan sel darah, misalnya limfoma. Lebih dari 9 persen orang yang menderita kanker itu menggunakan obat pereda nyeri asetaminofen dibandingkan dengan 5 persen orang yang juga
mengonsumsi, tapi tidak terkena kanker.

Kemudian, setelah mempertimbangkan faktor usia, penyakit artritis, dan riwayat keluarga yang menderita kanker darah, ternyata orang yang
mengonsumsi obat pereda nyeri dalam jangka panjang memiliki risiko dua kali lebih besar menderita kanker.

“Orang yang berusia di atas 50 tahun memiliki risiko kanker darah dalam 10 tahun. Namun, jika Anda mengonsumsi asetaminofen paling tidak empat
kali dalam seminggu selama minimal empat tahun, risiko terkena kanker tadi akan naik menjadi 2 persen,” kata White.

Dalam penelitian ini, tidak ditemukan kaitan antara obat pereda nyeri lain seperti ibuprofen dan aspirin.

Dr Raymond DuBois, ahli pencegahan kanker, mengatakan, asetaminofen atau parasetamol bekerja dengan cara berbeda dibandingkan dengan obat
analgesik lainnya sehingga memiliki efek berbeda pula pada kanker.

“Namun, tetap mengejutkan bahwa penggunaan asetaminofen meningkatkan risiko kanker darah,” katanya.

Sementara itu, produsen yang memproduksi Tylenol, obat pereda nyeri asetaminofen, tidak merespons hasil penelitian ini.

White juga mengatakan masih terlalu dini untuk membuat rekomendasi terkait dengan hasil penelitian ini. Meski begitu, ia mengatakan tidak ada obat pereda nyeri yang bebas dari efek samping. “Penggunaan jangka
panjang obat yang dijual bebas memang menimbulkan dampak berbahaya,”katanya.

http://health.kompas.com/read/2011/05/10/16245851/Waspada.Obat.Pereda.Nyeri.Memicu.Kanker

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on May 14, 2011 in kesehatan

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: